Minggu, 21 Agustus 2016

Berjalan Dalam Keseimbangan di Kampung Atsj

Plang selamat datang di Objek Wisata Kampung Atsj.
Ja asamanam apcamar, berjalan dalam keseimbangan. Begitulah bunyi semboyan resmi Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Semboyan yang lahir dari kearifan turun-temurun dan telah menjadi etos hidup bagi masyarakat suku Asmat. Nilai ini menjadi pegangan dalam pembangunan kabupaten secara berkelanjutan juga menjaga lingkungan kampung agar tetap lestari.

Jika berkesempatan ke Asmat cobalah berkunjung ke Kampung Atsj (baca: atsi) untuk melihat bagaimana semboyan tersebut bekerja. Selama hampir setahun tinggal di Asmat, Kampung Atsj adalah favorit saya untuk dikunjungi. Di Kampung ini perkembangan dalam bingkai keseimbangan benar-benar terlihat. Gejala modernitas mulai nampak namun kearifan adat masih kuat bertahan. Pembangunan berlangsung tapi daya dukung lingkungan tetap diperhatikan.

Sebenarnya Kampung Atsj punya pengalaman buruk di masa lalu. Sekitar tahun 1990-an Kayu Gaharu yang melimpah di sekitar hutan kampung menjadi incaran para pendatang. Masyarakat Suku Asmat sebagai pemilik dusun, lokasi hutan yang terdapat banyak Pohon Gaharu, dibujuk rayu untuk menyewakan bahkan menjual lahan mereka kepada para pemodal dari luar daerah. Eksploitasi berlebihan pun terjadi. Dampak buruknya dirasakan kemudian oleh masyarakat kampung. Hutan gundul, abrasi pada beberapa kali atau sungai, dan bagi masyarakat yang masih hidup berburu, lokasi untuk menangkap hewan hutan dirasa semakin jauh. Rusaknya sistem ekologi adalah bencana besar bagi suku Asmat yang sebagian besar masih hidup berburu dan meramu bahan makanan dari hutan.

Keresahan akan rusaknya hutan di sekitar kampung kemudian mendorong para tetua adat dan tokoh masyarakat untuk berembuk. Menegakkan kembali kearifan lokal warisan leluhur yang mulai luntur menjadi pilihan. Himbauan disebarkan kepada masyarakat, baik suku Asmat maupun pendatang, untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan alam. Suku Asmat sebenarnya memiliki mekanisme adat tersendiri dalam berinteraksi dengan alam. Cara tersebut terbukti ampuh dalam menjaga kelestarian hutan yang menjadi pusat hidup mereka selama ratusan tahun.

“Kata kuncinya itu adalah keseimbangan. Dari dulu kami sudah mengambil kayu di hutan untuk bikin rumah, mengukir, memasak, tapi tidak pernah bikin hutan jadi rusak. Hutan itu sumber hidup kami. Kalau hutan rusak roh leluhur akan marah, dan hidup akan jadi susah. Itu yang banyak dilupa oleh generasi sekarang. Gara-gara satu amplop uang saja mereka rela jual sumber kehidupan.” Kata Laurensius Bumberew, Kepala Kampung yang juga salah satu tetua adat Kampung Atsj.

Diskusi para tetua adat di dalam Jew, rumah adat yang menjadi pusat interaksi sosial dan agenda ritual Suku Asmat, hampir selalu menyinggung soal kearifan leluhur dalam memperlakukan alam. Dusun-dusun yang dikelola oleh masing-masing keluarga tetap tidak boleh dirusak sesuka hati karena akan berdampak pula kepada orang lain juga kampung. Ajaran-ajaran ini kemudian disebarluaskan kepada anggota keluarga di rumah-rumah, terutama pada anak-anak dan orang-orang muda Asmat.

Suasana pertemuan di dalam Jew, pusat pertemuan sosial dan agenda ritual Suku Asmat dilaksanakan.
Status Kampung Atsj sebagai ibukota distrik memang membawa banyak keuntungan juga tantangan bagi kelestarian kampung dan hutan sekitar. Kedatangan para perantau dari Sulawesi, Ambon, dan Jawa dengan segala barang dagangan mereka membuat kehidupan masyarakat kampung jadi lebih mudah. Kebutuhan pokok tidak susah payah lagi dicari di dalam hutan. namun segala kemudahan tersebut membawa efek buruk dalam hal bergesernya budaya Suku Asmat. Generasi yang lahir kemudian adalah generasi yang serba instan dan melulu berpikir oportunis. Mereka tidak lagi menguasai cara-cara leluhur dalam memanfaatkan alam sekitar mereka. Mereka seperti kehilangan semangat untuk bekerja di hutan. Akibatnya ketika ada godaan untuk menjual lahan dusun, tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya mereka langsung mengiyakan.

Beruntung Kampung Atsj masih memiliki orang-orang yang masih memegang teguh ajaran leluhur. Mereka lah yang kemudian menghidupkan kembali adat sebagai kontrol sosial. Selain bediskusi di dalam Jew, seperti yang sebelumnya saya katakan, para seniman di kampung menyebarkan pesan-pesan adat lewat kegiatan di sanggar seni. Adalah Yohanis Tuanban (51 tahun) beserta seniman ukir lainnya yang kemudian berinisiatif untuk membangun sebuah sanggar seni di Kampung Atsj. Sanggar ini kemudian menjadi pusat kegiatan para woupits (sebutan untuk seniman ukir Asmat) dalam memproduksi ukiran khas Asmat. Selain itu sanggar seni yang diberi nama Atsekap tersebut juga berfungsi sebagai lokasi transfer ilmu mengukir dan penyadaran akan pesan-pesan leluhur kepada anak-anak dan kawula muda.

“Setiap hari sanggar kami buka. Ada yang mengukir ada juga yang bertugas mengumpulkan pemuda untuk dilatih. Sambil berlatih mengukir kami sampaikan pesan-pesan leluhur tentang menjaga alam dan adat istiadat orang Asmat kepada mereka. Kami menganggap hal ini sangat penting untuk dilakukan.” Kata Yohanis Tuanban saat saya mengunjungi Sanggar Seni Atsekap.

Bagi orang Asmat nilai-nilai kearifan leluhur sangat kental tertanam dalam aktifitas mengukir. Konon proses penciptaan manusia pertama suku Asmat berasal dari kayu yang diukir hingga membentuk sesosok manusia. Ukiran tersebutlah yang kemudian menjelma menjadi leluhur pertama dan utama dalam alam kepercayaan orang Asmat. Itu sebabnya bagi orang Asmat mengukir selalu dianggap sebagai sesuatu yang sakral.

Banyak hal yang mesti diperhatikan sebelum memulai membuat sebuah ukiran. Mulai dari pemilihan bahan kayu hingga proses pemasarannya. Kayu yang digunakan adalah jenis kayu besi yang benar-benar sudah siap. Kesiapan pohon dari kayu tersebut ditandai dengan batang dan ranting yang sudah mengering dan kulitnya mulai mengelupas. Pohon yang telah tumbang lebih mereka utamakan untuk dibawa pulang kemudian diukir. “Kalau kayunya belum siap jangan ditebang dulu. Biasanya ukiran belum selesai kayunya sudah rusak atau terbelah. Itu tandanya leluhur tidak merestui.” Jelas Yohanis.

Dalam hal pemasaran, para woupits biasanya membawa ukiran mereka di Pesta Budaya Asmat dan Festival Beworpit-Tewerawut (Festival Seni Khusus untuk Pemuda Asmat) yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Selebihnya mereka menunggu para turis yang datang untuk melihat hasil karya mereka. Diakui oleh Yohanis, pemasaran yang selama ini mereka usahakan dirasa belum maksimal. Oleh sebab itu Ia masih terus berusaha untuk melebarkan jaringan pasarnya dengan berbagai cara. Meminta bantuan kepada dinas terkait di kabupaten sampai menjalin kemitraan dengan pihak swasta. Kesempatan untuk ikut pameran seni pun selalu Ia sambut baik.

“Bulan depan (September) saya diajak untuk ikut pameran seni Festival Pesona di Jakarta. Saya akan memperkenalkan langsung budaya Asmat disana. Siapa tahu bisa tambah kenalan juga untuk menjual produk (ukiran dan anyaman) anggota sanggar.”

Rutinitas harian para Woupits atau pengukir di Sanggar Seni Atsekap Kampung Atsj. Selain workshop tempat ini juga difungsikan sebagai pusat pelatihan keterampilan mengukir bagi generasi muda.
Beberapa contoh ukiran tembus dua sisi khas Kampung Atsj yang banyak diminati oleh turis maupun kolekter seni.
Awalnya bangunan Sanggar Seni Atsekap sangat sederhana. Hanya bangunan berbentuk pondok kecil dengan luas tidak lebih dari 25 meter persegi. Namun sekitar awal tahun 2010, pengurus Sanggar Seni Atsekap mulai melakukan pengelolaan keuangan. Sebagian hasil penjualan ukiran para anggota disisihkan untuk kas sanggar. Pada tahun 2015 dana mereka sudah siap untuk mendirikan sanggar yang lebih besar dan nyaman untuk aktifitas kesenian masyarakat kampung. Sanggar juga dilengkapi dengan gudang untuk menyimpan ukiran yang telah selesai namun belum laku terjual.

Pengembangan produk juga terus dilakukan. Yang terbaru, para pengukir Kampung Atsj memperkenalkan ukiran akar pohon. Hal tersebut merupakan inovasi daerah yang benar-benar dikembangkan dari dalam kampung. Jika biasanya akar pohon hanya dibuang setelah batangnya dijadikan papan, kini sudah bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan yang cantik. Akar-akar pohon berukuran sedang hingga besar biasanya diukir bercerita lantas dijadikan kaki meja. Sejauh ini sambutan akan produk terbaru tersebut sangat baik. Menurut seorang pengukir, sudah ada orang dari Merauke dan Agats (Ibukota Kabupaten Asmat) yang memesan kerajinan tangannya. Bahkan kini Kampung Atsj telah ditetapkan sebagai Kampung Wisata oleh Pemerintah Kabupaten Asmat dengan ukiran akar pohon sebagai ciri khasnya.

Ukiran akar kayu, produk inovasi terbaru dari Kampung Atsj.
Tidak berhenti sampai disitu, Kampung Atsj kini juga memiliki sanggar khusus bagi kaum perempuan untuk membuat kerajinan rajutan. Kerajinan tangan seperti noken (tas rajut khas Papua), cawat, perhiasan, dan lain sebagainya diproduksi di tempat yang diberi nama Sanggar Semenawuts tersebut. sistem keuangan sanggar pun diatur seperti Sanggar Seni Atsekap. Dengan begitu kaum perempuan Kampung Atsj memiliki dana untuk mengembangkan sanggar dan membuat program lainnya, seperti pelatihan keterampilan bagi anak-anak dan remaja serta pemberian nutrisi tambahan bagi balita di dalam kampung.

Perkembangan sanggar Semenawuts dirasa cukup pesat oleh para anggotanya. Mereka dengan cepat memperkenalkan anyaman tas noken khas Asmat yang berbahan dasar pucuk daun sagu. Menurut Mama Helena yang menjabat sebagai Ketua sanggar, kini produksi noken buatan perempuan-perempuan Kampung Atsj lebih cepat terjual jika dibandingkan produk ukiran. “Noken buatan anggota saya tidak pernah bertahan lama di dalam sanggar. Kalau kami bawa ke pasar pasti ada yang membeli. Ada juga yang meminta untuk kami menjual di Agats,” kata Mama Helena.

Mama Helena saat melatih seorang remaja membuat anyaman noken di Sanggar Semenawuts Kampung Atsj.
Meningkatnya minat akan produk kesenian Suku Asmat, baik noken maunpun ukiran, tentu tidak lepas dari ditetapkannya Asmat sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Sites) oleh Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB, UNESCO. Kabar gembira tersebut datang pada tahun 2011 setelah proses pengusulan yang alot selama lebih dari setahun. Pesona Asmat dengan segala kekayaan intelektualnya di bidang budaya memang sejak lama telah menarik perhatian dunia. Dan pengakuan dari UNESCO tersebut semakin mempertegas kekaguman tersebut. Tentu prestasi membanggakan ini merupakan persembahan masyarakat Suku Asmat untuk Indonesia. Dan sudah semestinya menjadi tugas kita sebagai bangsa untuk terus merawat kebanggan tersebut.

Sumbangsih sanggar-sanggar seni di Kampung Atsj telah berkontribusi nyata dalam menghidupkan mata pencaharian yang lebih ramah pada lingkungan. Kampung ini membuktikan bahwa perkembangan dan pembangunan tidak mesti mengorbankan budaya dan lingkungan. Kesadaran adat turun-temurun dipadu dengan inovasi dalam berkarya adalah cara orang Asmat di Kampung Atsj dalam menghadapi tantangan zaman.


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar